Workshop Digital Kembangkan Bakat Wirausaha Milenial

shape image

Workshop Digital Kembangkan Bakat Wirausaha Milenial

Yayasan Dai Muda Indonesia yang membawahi Pemuda.org menggelar kegiatan workshop digital dalam rangka mengembangkan kapasitas kewirausahaan generasi millenial yang diselenggarakan di JPW Cafe & Showroom, Komplek Grand Depok City (GDC), Kota Depok, Jawa Barat, belum lama ini.

Kegiatan yang digelar intensif sehari ini terselenggara atas dukungan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan bekerjasama dengan BEM STIEHID dan Pemuda.org.

Acara ini menghadirkan narasumber pegiat lembaga filantropi Suwito Fatah, penggagas rumah kreatif Madrasah Talenta Multimedia (MTM) Ainuddin Chalik dan Abu Muhammad Al Fatih selaku dari tim Pemuda.org yang memoderatori acara tersebut.

Suwito dalam materinya, mendorong puluhan peserta yang umumnya mahasiswa berasal dari berbagai kampus di Depok dan Bogor ini untuk mulai melek teknologi. Menurut Suwito, bukan zamannya lagi anak muda diam tanpa kreatifitas.

Apalagi mahasiswa, lanjut dia, adalah di mana sedang segar-segarnya. Kesempatan tersebut mesti dimanfaatkan sebaik mungkin sebelum terlambat.

"Aksi dari sekarang, atau tidak sama sekali. Lebih baik memulai namun gagal daripada tidak sama sekali. Kegagalan satu kali akan membakar semangat Anda untuk melakukan beribu kali lagi," kata Suwito memberi semangat.

Suwito mengajak peserta mengambil inspirasi dari anak-anak muda yang telah menunjukkan keberhasilan berkat kesungguhannya. Bahkan, dia menyebutkan, waralaba Forbes memberikan penghargaan kepada 30 anak muda Asia berprestasi melalui "30 under 30 Asia" pada Kamis, 4 April 2019. Dari anak muda pilihan Forbes, tercatat 17 di antaranya berasal dari Indonesia.

"Kalau mereka bisa, kita insya Allah juga bisa. Yang penting mau belajar dan terus belajar serta berlatih," tutupnya.

Senada dengan itu, Ainuddin berbagi informasi seputar perkembangan industri digital dan peluang-peluang yang ada di dalamnya. Dia menyebutkan, di Eropa, pegiat atau bursa kerja bidang indsutri digital diisi oleh anak usia minimal 14 hingga 20 tahun. Usia di atas umur tersebut sudah dianggap tua.

"Jadi saking cepat peralihannya, perusahaan digital di Eropa mencari talenta belia. Usia 25 sampai 30 tahun memang masih dilirik untuk mengisi ceruk tersebut tapi sudah dianggap tua dan dianggap tidak produktif," katanya.

Namun, ia berpesan tak usah berkecil hati. Tidak ada kata terlambat. Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Yang penting terus berfokus pada bidang yang diminati.

Abu Muhammad Al Fatih selaku moderator menyampaikan pentingnya kolaborasi. Dengan kolaborasi, kita bisa lebih memiliki kesempatan mengembangkan diri dan bertemu dengan banyak kreator yang bisa menginspirasi kita.*
© Copyright 2019 Pemuda.org

Form Kesediaan Menjadi Donatur

Pastikan di perangkat Anda telah terinstall Aplikasi WhatsApp

Kirim